Happy Birthday Dear Bandung..

Mumpung masih dalam rangka ulang tahun Bandung yang ke-207, saya mau cerita tentang pengalaman saya jadi turis di kota sendiri.

Terlahir sebagai orang Bandung dan selalu tinggal dan hidup di kota ini, idealnya punya pengetahuan yang banyak soal Bandung. Sejarahnya, perkembangannya dari masa ke masa, budayanya dan juga rekomendasi ini itu soal Bandung. Tapi nyatanya saya ga banyak tau tentang Bandung. Shame on me. Akhirnya, saya minta temen saya untuk menemani saya tur keliling Bandung untuk sedikit belajar tentang sejarah Bandung. Kebetulan dia salah satu interpreter  yang tergabung di Bandung Trails – sebuah komunitas yang concern sama history Bandung terutama dari perspektif arsitektural. Jadi kegiatannya adalah menemani tamu-tamu asing untuk berkeliling mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Bandung. And now, I am also one of them.

Tahukah kamu darimana kata Bandung berasal?

Ada beberapa sumber yang menceritakan versinya masing-masing, tapi saya lebih tertarik dengan satu sumber yang menceritakan bahwa Bandung diambil dari kata bendungan, karena dulu sebelum menjadi kota, Bandung merupakan sebuah bendungan besar yang dikelilingi oleh gunung-gunung vulkanik di sekitarnya. Faktanya memang begitu. And I think it’s quite make sense.

Ok, now I’m ready to start the tour…

Tur diawali dengan mengunjungi museum kecil di dalam Hotel Grand Preanger (yang sekarang berganti nama jadi Hotel Prama). Hotel ini merupakan hotel kedua yang didirikan di Bandung setelah Hotel Homann. Saya udah beberapa kali dateng ke hotel ini tapi baru tau kalo ada museum di lantai dasarnya. Isi museumnya banyak bercerita tentang bangunan-bangunan tua di Bandung yang kebanyakan hasil karya sang arsitektur yang sangat terkenal pada zamannya, Wolf Schoemaker. Berkebangsaan Belanda tapi lahirnya di Jawa Timur. Menuntut ilmu di negeri Belanda kemudian kembali ke Indonesia, mengejar passionnya di bidang arsitektur. Beliau juga dosennya Ir. Soekarno loh di ITB dulu.

20170705_094539
Bandung KM 0

Destinasi kedua adalah tugu km 0 Bandung. Letaknya di Jalan Asia Afrika. Pasti sering pada lewat tapi mungkin sama ga ngeh nya sama saya. Jadi tugu ini merupakan titik dimana H.W.Daendels (pemimpin Belanda yang saat itu berkuasa) menancapkan tongkatnya untuk kemudian meminta dibangunnya sebuah kota ketika dia kembali. Ada juga stoom walls yang terpampang nyata disitu sebagai pengingat perjuangan masyarakat Indonesia untuk membangun jalan sepanjang 1000 km, itu loh jalan antara Anyer-Panarukan (coba diinget lagi pelajaran sejarah jaman sekolah dulu). Nah jalan ini juga yang menjadi jalan pertama di kota Bandung.

Tahukah kamu kalo bangunan yang sekarang jadi bank OCBC NISP dulunya adalah sebuah toko segala ada. Mulai dari cerutu, barang impor, alat-alat pertukangan sampai barang sehari-hari bisa ditemukan disini. Pemiliknya De Vries. Namanya terpampang di dinding bangunan.

20170705_095611
De Vries

Destinasi ketiga adalah Museum Asia Afrika. Kalo yang ini sih saya tau, udah pernah berkunjung sebelumnya. Dulu namanya Societeit Concordia, sebuah klub eksekutif yang khusus diperuntukkan bangsa kulit putih, Eropa. Nah, yang saya ga tau adalah gedung di sebelahnya, De Majestic, yang dulunya adalah bioskop. Terbukti dengan terpampang proyektor yang dulu dipake. Merk nya Phillips loh!

20170705_110429

Kalo jalan-jalan di seputaran Asia Afrika, pasti tau deh sama quotes-nya M.A. Brouwer : “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. That’s why many beatiful things in here. Quotesnya sih terkenal, tapi Brouwer itu siapa yah? Setelah digoogling, ternyata Brouwer itu adalah seorang psikolog, filsuf asal Belanda yang pernah mengajukan diri untuk menjadi warga negara Indonesia, namun permintaannya ditolak. Kemudian beliau pun kembali ke negeri asalnya. Quotes ini menjadi menarik bagi siapa saja yang melewati jalan Asia Afrika. Tapi sayangnya ga ditranslate ke bahasa Inggris ya, kalo ada terjemahannya turis-turis asing yang dateng ke Bandung mungkin akan lebih tertarik dan teringat sama quotes ini juga.

asia afrika
photo taken from google

Setelah melewati quotesnya Brouwer, kemudian kita mengunjungi Alun-Alun dan Masjid Agung. Area yang ga pernah sepi ini ternyata sudah ada dari tahun 1800-an dan udah sering direnovasi. Yang serunya bagian naik ke atas menara mesjid. Norak yeee baru kali ini naik ke atas. Entah kenapa dari dulu tiap cari temen untuk naik ke atas ga pernah ada yang mau. Huft. Eh ternyata menarik juga pemandangan dari atas sana. The view from the top is always the best. Dari sini kita bisa liat bagaimana jalan asia afrika yang merupakan bagian dari “Grote Postweg” membagi Bandung menjadi dua bagian, utara dan selatan. Dulunya, kawasan Bandung Utara diperuntukkan kawasan tempat tinggal bagi bangsa Eropa, sedangkan kaum pribumi menempati Bandung Selatan. Kontrasnya, bangunan-bangunan yang ada di bagian utara lebih tertata rapi karena jaman dulu orang pribumi don’t know how to build a proper residence. Jadi bangunannya terlihat lebih “acak-acakan”.

20170322_102653-1

Beres liat bandung dari atas, tujuan berikutnya menyisiri jalan braga, jalan yang paling heits pada jamannya. Jalan braga juga menjadi alasan kenapa bandung dulu disebut paris van java. Bukan karena pemandangan kotanya yang kaya di paris tapi karena apa yang dijual di Paris (fashion) juga ada di jl. braga. Saya baru tau juga kalo dulu sempet ada rencana untuk mindahin ibu kota dari Batavia ke Bandung sekitar tahun 1920an, that’s why banyak pembangunan infrastruktur, area residensial dan gedung-gedung lainnya terjadi saat itu. Termasuk “hidupnya” jalan braga. Sayangnya rencana itupun gagal karena Jepang keburu menginvasi Indonesia.

Yang menjadi highlight dari jl braga adalah toko sumber hidangan sama restoran braga permai. Dua bisnis yang masih bertahan dari tahun 1920-an sampe sekarang. Bisnis lainnya sih silih berganti. Kalo mampir ke sumber hidangan jangan lupa pesen home made ice cream nya mereka. Enak banget!

Di ujung jalan braga ada gedung landmark yang konon merupakan sebuah toko buku yang sangat sukses. Kalau kalian perhatikan di masing-masing sisi bangunan terdapat “kala”, a demonic mask yang dipercaya untuk menangkal energi negatif ke dalam gedung (Kala juga terdapat di gedung De’Majestic). Mungkin dulu itu salah satu rahasia kesuksesan mereka. Sekarang sih landmark sering banget dipake untuk kegiatan job fair atau pameran buku. Masih pada suka kesini ga sih kalian?

Beberapa meter dari landmark, kita akan melihat gedung bank indonesia yang kokoh berdiri dengan gaya neo klasiknya. Pilar-pilarnya yang gede bikin gedungnya jadi terlihat ‘wah’ ya. Sebelum jadi Bank Indonesia, gedung ini adalah Javaasche Bank. Tapi setelah Indonesia merdeka, namanya diganti. Berhadap-hadapan dengan gedung Bank Indonesia adalah gedung Ex-Insulinde, sebuah perusahaan minyak yang sukses di jamannya. Tepat di sebrang Bank Indonesia di arah yang lain adalah Balai Kota, yang ternyata dulunya merupakan tempat penyimpanan kopi sebelum dikirim ke luar negeri via Jakarta.

Di sekitar Balai Kota ada dua gereja, yaitu bethel dan cathedral. Keduanya dibuat oleh arsitektur yang sama, Schoemaker. Bangunan ini dari dulu hingga sekarang memiliki bentuk yang sama. Karena udah dikategorikan sebagai heritage building oleh pemerintah bandung, jadi ga boleh dirubah bentuknya, harus dilestarikan.

Ternyata seru juga jalan-jalan di Bandung. Setidaknya sekarang kalo ada yang nanya tentang sejarah Bandung, saya bisa lah jawab dikit-dikit. Meski masih banyak tempat-tempat bersejarah lainnya tapi cukup segitu aja dulu jalan-jalannya, to be continued next time. Happy Birthday, Bandung! Semoga semakin juara!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: