Vietnam & Cambodia Trip – Part 3

Day 7

It’s Angkor Wat day!!! Angkor Wat is a temple complex in Cambodia and the largest religious monument in the world. It was originally constructed as a Hindu temple for the Khmer Empire, gradually transforming into a Buddhist temple toward the end of the 12th century. It’s really amazing! The temple was constructed literally in the middle of the jungle. If you really want to explore all of the area, it may need 2-3 days using tuktuk instead of walking around. Can you imagine how big is it?

Sebagai sesama candi bagi umat agama Budha, Angkor Wat dan Borobudur mungkin memiliki latar belakang sejarah yang mirip. Relief-relief di kedua candi pun bisa dibilang mirip. Dan kedua bangunan megah ini tentunya terdaftar sebagai bangunan bersejarah di UNESCO. Adanya candi-candi ini juga membuat kita yang hidup pada jaman sekarang berpikir mengenai proses pembangunannya, mengingat saat itu belum ada kecanggihan teknologi. I may not understand about architecture, but I do really loves how the way it build. This is the only reason why I want to visit Cambodia, to see with my own eyes how stunning this temple is. It is really paid off.

IMG_5135

That morning our tuktuk driver ready to give us a private tour to Angkor Wat. Entrance fee is USD20 for one day trip. It cost higher if you want to explore it for 3 days. There are several temple inside the area of Angkor Wat. We only choose one day trip which have enough time to visit 3-4 temple during the day, Angkor Wat, Bayon temple, Ta Phrom,  and Angkor Thom. Luckily, the weather during the morning until noon was really sunny. So we could have hundreds of photos only in a few hours. Saking kerennya, di candi ini kita bisa menemukan banyak spot foto bagus. Kebanyakan batu-batunya masih berdiri dengan gagahnya. Dengan warnanya yang natural memberikan efek yang semakin keren. Meskipun banyak turis lainnya yang dateng kesini, ga usah khawatir kalo mereka akan jadi background kita saat foto. Tempatnya luas banget jadi ga masalah. Paling kita mesti antri untuk berfoto di depan akar pohon yang terkenal (Ta Phrom) karena dijadiin tempat shooting film Tomb Rider yang rilis tahun 2001.

Saat kita kurang puas menyaksikan candi-candi ini dari darat, akhirnya kita memutuskan naik balon udara yang ada di sekitar kompleks untuk bisa dapetin sudut pandang yang berbeda. Meski saya agak takut dengan ketinggian, tapi pemandangan yang kita dapet bener-bener keren. Sejauh mata memandang terhampar hutan hijau dan sawah-sawah di sekitar Angkor Wat dan baru bener-bener keliatan betapa besarnya ukuran candi ini dilihat dari atas.

Karena letaknya yang di tengah-tengah hutan belantara, ketika kita lagi menuju candi-candi lainnya berasa banget loh melewati deretan pohon-pohon besar di kanan kiri. Pemandangannya cuma itu. Siang aja udah agak spooky, apalagi kalo malem. Aura di sekitar candi pun rasanya beda. Kalo orang Sunda bilang “Keueung”, padahal banyak orang. Gimana ga keueung dikelilingi akar-akar pohon yang berumur ratusan tahun dan udah menyatu sama bangunan candinya. Keren memang tapi merinding juga kalo ditinggal disitu sendirian sih.

Di area kompleks candi, ada juga tempat makannya. Jadi ga usah jauh-jauh buat cari makan. Sambil makan siang, kita sempet ngobrol sama bule asal Italia, cewe dan cowo yang kita kira adalah couple ternyata mereka kakak-adik. Serunya bule-bule Eropa itu adalah mereka punya jatah cuti yang panjang jadi bisa puas keliling-keliling Asia berminggu-minggu. Ditambah lagi nilai mata uang mereka yang lebih tinggi, jadinya pasti murah banget lah jalan-jalan ke Asia sih.

Sayangnya setelah makan siang sempet hujan besar, mau ga mau kita mesti nunggu reda untuk bisa eksplor lagi. Ga enaknya lagi ternyata kalau abis ujan banyak air menggenang di dalam candi, jadi terpaksa becek-becekan. Nah di candi terakhir yang kita datengin, sedih banget ngeliatnya karena struktur bangunannya yang udah mau runtuh. Namanya juga buatan manusia, ratusan tahun yang lalu pula, segagah-gagahnya tetep bisa runtuh juga. Ga cuma di candi ini, di bagian pintu masuk candi Angkor Wat pun pas kita dateng lagi ada proses rehabilitasi bangunan. Pasti memakan waktu yang sangat lama untuk menjaga keaslian bangunan, ga bisa sembarangan direnovasi. Semoga dengan banyaknya pihak yang membantu, candi ini bisa terus terjaga dengan baik biar generasi berikutnya pun masih bisa menyaksikan kemegahannya.

P1040255
Hangin’ there!

Setelah seharian keliling candi, to end the day, we went to night market again! to buy some more things before we have to go back to Vietnam the next day. Thanks to our tuktuk driver who has been given his best service. I would like to recommend his service for anyone who will visit Siem Reap in the future. He is so patient and free flow mineral water, you won’t get dehydrated.

 

 

Day 8

Time to go back to Ho Chi Minh City. Since it’s such a long trip, 14 hours, with a short time break, so we spent the whole day on the road. Still using the same bus provider when we got here, Mekong Express, we reached the border after dark where a lot of people waiting for their approval on the border. It’s really chaotic. People getting frustrated. They looked very tired. I heard that most of them have been waiting for hours. I don’t know the problem. Luckily the staff of Mekong Express really help us to get our approval faster than others. We have to wait but not for hours. I don’t know how either. It shows that Mekong Express is quite recommended. 🙂

Day 9

Sadly it’s our last day in Vietnam. We had evening flight so we could take a walk around the city during the day. We went to Reunification Palace. It is a landmark in the city. It was the home and workplace of the President of South Vietnam during the Vietnam War. No wonder every room has a luxury interior. It must be fun living in here 🙂

Before we’re going back to Jakarta, I really want to bring a signature thing from Vietnam. Something that could only found in here. On the way back to the hotel I saw a fruit that I’ve never seen before. When I asked the seller, he mention the name of it but I didn’t familiar with that name. So I assume, it’s the signature fruit of Vietnam. I decided to buy it and will give it to family and friends back in Bandung. You know what? Turns out the name of the fruit is “Sarikaya”. Gila ya, taunya cuma sarikaya dalam bentuk selai terus diolesin ke roti, atau udah berbentuk puding sarikaya. Yang tadinya mau sombong bawa oleh-oleh buah khas vietnam, yang ada malah diketawain abis-abisan gara-gara ga tau bentuk buah sarikaya. Ah, bodohnya…

IMG_8003
Ini dia buah sarikaya *kaliajaadayanggataujuga :p

Kita juga sempet ngopi-ngopi cantik di salah satu mall di HCM. Selama kita disana kita sering liat brand ‘Highland Coffee’ dimana-mana, mungkin itu kaya Starbucks lokalnya mereka kali yah. Rasanya yah..gitu deh, ga seenak starbucks tapi masih drinkable kok. Then it’s time to go back to Jakarta. Back to reality. Back to work. Saving more for another trip 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: